a tribute for a lady I named “mamah”

Hi Mom, it’s been 4 years since you’ve gone, and almost 5 years since grandma passed away. Though I’m sure that all the angels will take care of you, but the truth is I miss you, and so does everybody.

Ade masih inget banget si mamah suka maenan game di PC Pentium III sore-sore. Si mamah maen bola-bola yang kayak tetris. I  don’t know why she liked to play that, hampir tiap hari mamah maen itu. She got the best score among the player at home, but in fact she’s  good at everything kecuali nangkep tikus. Ade inget si mamah takut sama tikus, kalo ada tikus si mamah lompat-lompat, terus latahnya julatjulitjulatjuliatjulatjulit… terus ade ktawa sampe nggak bisa nangkep tikusnya. Ade juga inget waktu mamah nemenin ade belajar pas besoknya mau ujian nasional fisika. Si mamah tau ade takut fisika tapi suka banget matematika. Udah gitu, si mamah terkenal banget hobinya suka nyikat kamar mandi, sampe saking giatnya nyikat kamar mandi, lem-lem di sela-sela ubinnya lepas, trus aer kamar mandi ngerembes ke lantai bawah. Waktu kecil, kalo ade jatoh sampe luka, si mamah langsung ngomel-ngomel gini “kamu ngapain siiiiii?” padahal si mamah panik sendiri.

read more

“I have no desire whatsoever to desecrate the grave of seminal Manchester pop group The Stone Roses.”

Fareed Zakaria’s Rise of The Rest

I smelled a chamomille from my cup of tea. It was my second order after a double cappuchino. It was a lovely day when I took a day off on Thursday, Friday and it was like… weekend came early!

I spent my Thursday evening with Fareed Zakaria’s book with a chamomile tea. Recently, I was quite exited to read Fareed Zakaria’s The Post American World. It is not another Jeremy Clarkson. It is about the raise of the rest, the raise of the other countries besides US and the western countries. He wrote about asia. I don’t wanna give a review of this book, I haven’t finished reading it. But every chapter, even every sub chapter really made me said “yeah… that’s right”

My favourite part is culture. In chapter 3 he wrote about culture, but in chapter 2 he also wrote about nationalism where there ae 2 sentences that facinates me : “We still think of a world in which raising power must choose between two stark options : integrate into western order or reject it, becoming rogue nation and facing the penalties of excommunication. In fact, raising power apper to be following the third way : entering the western order but doing so on their own terms -thus reshaping the system itself.”

skins’ words

that’s why i like it

Tony: Change. It’s a wonderful thing. Look, you know how subatomic particles don’t obey physical laws? They act according to chance, chaos, coincidence. They run into each other in the middle of the universe somewhere and bang! Energy! We’re the same as that. That’s the great thing about the universe: unpredictable. That’s why it’s so much fun.

Angie: I don’t have sex with my 17 year-old students!

Chris Miles: How old are they normally?

Sid: Hang on, you want to nick my dad’s car? Why can’t we nick your dad’s instead?

Tony: Because Sid, my dad has central locking, sophisticated alarm system, and probably thinks a spell in prison would do me good. Whereas your dad has a 20 year-old car, neighborhood watch, and won’t prosecute.

when tony said “IMPROVISE!” and they kept swearing

Skins is quite entertaining when Gossip Girlsl starts to be too fancy. It reminds me of trainspotting while Gossip Girls is abso-fashion-lutely glamour!

Kemaren-kemaren saya lumayan upset karena nggak bisa nonton GG (Gosip Girls) karena tidak tersedia di website tempat saya biasa nonton online. Tapi tidak segitu upset nya, soalnya sudah mulai bosen juga. GG mulai unreachable.

Lalu, saya beralih ke skins. Gara-gara nonton Jonathan Rose pas lagi wawancara Dev Patel (Slumdog Millionaire). SM nya sendiri gue belom nonton. Tapi pas gue liat teaser nya, Dev Patel itu mukanya selalu serius, TOTALLY DIFFERENT pas dia di wawancara sama Jonathan Rose. Tipe-tipe anak celutakan.Oya.. one more thing about SM, ada hoppipolla-nya lho…

Well, I started to watch skins, ketika GG mulai unreachable dan terlalu fancy buat gue. Kalo dibandingin sama GG, jelas jauh si… maksudnya, ga bisa dibandingin. GG tu memang mengupas glamournya NY. Kalo skins lebih kayak common people with fantastic life. Michelle, karakter ceweknya gak segitu fancy-nya, dan cewek-cewek di Skins gak stunning kayak GG (kecuali pas si Michelle muncul di episode I lagi nyamperin Tony), but they have ’something’.

Skins ngingetin gue sama trainspotting (drugs, strong laguage), tapi bukan itu yang gue suka. Karakternya keren-keren menurut gue. Cassey, yang punya eating disorder, anaknya lemah lembut, fancy, sering banget komentar “owh… that’s lovely” dengan suara imutnya. Tony is effortlessly stunning, intelligent, pinter mempengaruhi temennya.

Banyak hal-hal lucu di episode pertama. Kayak pas mereka ke Rusia, metal detector polisinya bunyi pas anwar (muslim keturunan pakistan) diperiksa. Mukanya pakistan kan agak-agak arab gitu. Terus dia dibawa ke ruangan, khusus, akhirnya… dia dilepasin setelah ngasi duit ke polisinya. Pas keluar dia bilang kurang lebih gini “… mereka keliatan kecewa karena saya bukan terorist!” Konyol-konyolnya diimbangin sama Tony yang intelligent.

Well, I’m quite exited. Tapi satu hal yang menurut gue penting… kalo gue ikutan keep swearing in every sentence comes out from my mouth setelah nonton skins, berarti i’m such an immature one. By the way, satu hal yang menarik perhatian gue hari ini adalah satu baris kalimatnya Lily Alen di Glamour british “I like to be with somebody who doesn’t feel intimidated by my success…”

just another stupid scene of my life

Gue lari ajaaaaa biar gue bisa dapet kereta bertingkat yang menurut gue lebih manusiawi daripada kereta tak bertingkat… hehehe

Gue nyampe schiphol jam 17. 23 an, karena gue cabut jam 16.45… terus busnya juga cepet dateng. Gue lari aja ke platform 3-4, bayangan gue keretanya pasti dah nangkring di reL. Gue liat satu kereta, terus mas-mas kondektur uda niup peluit… langsung aja gue hajar tu kereta, gue masup aja ke dalem. Abis itu pintunya nutup… gue girang banget dalam hati gue merasa menang dashyat!!!!

Terus gue duduk, di pinggir deket jendela. Asik banget kereta jam rush gini lumayan sepi. Terus keretanya jalan-pelan-pelan. Gue nikmatin tu pemandangan luar… pemandanganna adalah : kereta arah Lellystad yang datang… di mana kereta itu adalah stoptrein yang berhenti di Amsterdam Zuid, Amsterdam RAI, Duivendrecht, dan DIEMEN ZUID (tempat gue seharusnya turun).

DAAAAAARRRRNN!!!! JADI GUE DI KERETA MANA?

Gue di kereta arah hoofdorp yang berlawanan dengan kereta arah lellystad yang harusnya gue naekkin lalu berfikir bahwa ada baiknya naek kereta jelek dan gak bertingkat, at least ga bakal ketuker…

out of the box

For me it’s to forgive but not to forget, we talked about this until my friend said “okay… let’s change the subject”

Well, I was born in 1986 which is (about) 41 years after the world war II.  Saya cuma baca rentetan perjuangan kemerdekaan Indonesia sejak jaman kerajaan-perjuangan kaum terpelajar, agresi setelah merdeka dari buku sejarah. Tujuannya tidak lain dan tidak bukan supaya bisa lulus dari SMA. Kurang lebih sejak SD kita kita yang mengenyam pendidikan di Indo sudah mulai diajarkan pelajaran sejarah.

Seperti yang saya tulis pada postingan sebelumnya, weekend ini saya dapat kesempatan untuk cross check dari point of viewnya orang Belanda. Salah satu kejadian menarik ketika saya mengungkapkan bahwa semuanya itu adalah sesuatu yang untuk dimaafkan tapi bukan berarti dilupakan, karena kita masih harus mengingat untuk tidak diulang. Namun, ia bilang semuanya untuk dilupakan dan dimaafkan.

By the way, menyenangkan melihat semua dari sisi yang berbeda, mencoba mengetahui rasanya jadi bekas penjajah yang bertemu dengan bekas jajahannya. Seperti meminjam mata dan melihat semuanya dari kacamatanya. Ada banyak hal yang saya nggak pernah tahu, tapi sedikit kesempatan untuk melihat semuanya secara out of the box.

“They feel terrible”

Kadang-kadang, ada satu hal yang gak bisa kita lakuin sama siapapun, termasuk teman dekat kita sekalipun (seperti bok#r? tapi bukan ini maksud saya). My side project was visiting Multatuli Museum

Akhirnya, kesampean juga tracing kepingan sejarah Indonesia Raya tercinta. At least sebagai lulusan Jurusan Teknik Informatika, yang saya trace bukan cuma code-code bahasa pemrograman. Weekend kali ini, saya memenuhi janji saya sama seorang belanda seumuran ayah saya. Kita pergi ke Museum Multatuli di Amsterdam.

Museum Multatuli sebetulnya adalah tempat tinggal Multatuli. Semua buku-buku terbitannya, disimpan di situ. Bahkan sampai sofa tempat beliau meninggal pun masih ada di rumah kecil itu. Yang menarik lagi, Multatuli adalah Ducth yang meninggalnya dikremasi. Tempat abunya masih ada di rumahnya, tapi abunya udah nggak di situ. Melihat sofa merah tempat beliau meninggal, tempat abu, meja tua, lukisan-lukisan keluarganya, nggak membuat saya merinding ketakutan (seperti teman saya yang maen peter answer terus deg2an, keringet dingin, dan guling-gulingan karena jawabannya sangat persis dengan sebenarnya… hahahahaha!!!).

Saya nggak bakal banyak cerita tentang Multatuli seperti yang diceritakan orang di museum itu (yang ternyata programmer cobol). Tapi beberapa hal yang memang saya garis bawahi dari apa yang saya dengar dan saya lihat di rumah itu.

Well, beberapa kali kita menyimpulkan Multatuli bukan anti penjajahan. Karena dia punya keinginan untuk menguasai Java juga, tapi dengan cara yang lebih proper, bukan dengan caranya pemerintah Belanda waktu itu. He’s a dreamer, dan dia bukan seperti Dutch kebanyakan ada saat itu. Mereka bilang Dutch pada saat itu sangat narrow minded. Beberapa kali, mereka bilang, sebelum perang dunia ke II, orang-orang Belanda itu sangat miskin, bahkan mereka hidup tanpa perapian saking miskinnya. Tapi setelah perang dunia kedua, semua berubah… karena apa? Ya… taulah karena apa.

Yang paling menarik adalah yang satu ini. Seperti kita tau, Multatuli terkenal dengan bukunya Max Havelaar. Tapi dia berhenti menulis, karena dia menganggap sebagai penulis ia menilai dirinya tidak berhasil dan semua yang dilakukannya sia-sia. Lewat bukunya dia ingin merubah dunia, atau dengan kata lain, menguasai Jawa dengan caranya sendiri, seperti yang sudah disebt tadi. Bukan berarti dia sama saja dengan penjajah yang kejam, karena dia sangat menghargai human rights. Intinya, menguasai jawa dengan caranya sendiri.

Tapi dari sini, saya kagum sama Multatuli. Multatuli berhenti menulis karena ia merasa usahanya untuk mengubah dunia dengan bukunya gagal. Saya lihat, Multatuli sebagai pribadi yang konsisten dengan tujuannya. Intinya dia tau banget apa yang dia lakuin waktu itu dan apa yang mau dia dapat dari situ.

Lalu satu pertanyaan yang saya selalu simpan sejak dulu, karena nggak pernah punya timing yang pas untuk bertanya. Saya wondering bagaimana perasaan mereka (Dutch people) kalo saya membicarakan tentang penjajahan. Jawabannya : They feel terrible.

And for me it’s something to forgive but not to forget.

Pijitan Fancy

It’s okay to laugh at your stupidity. It doesn’t matter what they are saying now, cause tomorrow they will follow you.  It’s okay to be happy! -anonymous-

Tadi pagi, sebelom berangkat saya sempet liat weer.nl, terus katanya hari ini ujan dengan suhu antara -1 sampai 4 derajat saja. Artinya, saya tidak bisa pake flat shoes dengan ujung jempol terbuka, dan harus melapisi tubuh saya dengan jaket yang tebal. Tidak lupa payung canggih yang perkiraan umurnya nggak sampai 3 bulan.

Lalu, berangkatlah saya menuju metro ganzenhoef dengan langkah biasa. Tidak tergesa-gesa mengejar metro karena lupa mijit tombol lift dan cuma nunggu di depan lift seakan-akan tombol mungil itu punya perasaan mencet dirinya sendiri which is IMPOSSIBLE.

Dari Ganzenhoef harus naik kereta ke Schiphol. Dari Schiphol naik bus lagi ke arah Schiphol Rijk. Turun dari situ, harus jalan ke kantor. Nah di perjalanan itu saya rasa hujan kecil-kecil. Tapi saya gak au ambil resiko ngebiarin air hujan kecil-kecil jatuh ke jilbab saya yang akhirnya bakalan lembab. Lalu saya buka si payung canggih berwarna hitam.

Si payung canggih ini baru saya beli kira-kira 2 minggu lalu, setelah payung lain tewas terhempas angin Schiphol dan sudah dikebumikan di dekat kantor ITGL yang letaknya gak jauh dari MEU (kantor saya) walaupun dikebumikannya dengan sangat tidak manusiawi alias digeletakin gitu aja di tengah anin ribut dan hujan yang nampol. Si payung canggih itu saya beli di H n M… pertama kali beli payung  H n M karena situasi dan kondisi yang memaksa.

Saya selamet sampe kantor. Tapi pas saya mau masuk dengan kunci yang sudah di tangan, betapa terkejutnya saya menatapi arsitektur payung saya yang aneh berat. Biasanya, payung ada pijitan besi pipih yang menonjol keluar di bagian atasnya. Tapi ini payung ga ada pijitannya. Jadi, gimana saya nutupnya. Gak lucu dong saya bawa itu payung sampe ruangan saya. Lalu, saya coba dulu tutup, saya dorong ke atas, tarik ke bawah…  DARN! gak mau nutup juga.

Akhirnya saya bawa masuk juga tu payung, mau minta tolong sama office assistant mba Roberta yang selalu siap sedia melambaikan tangannya ketika saya datang. Akhirnya, saya minta tolong sama kolega saya anak logistik  yang duduknya dekat-dekat saya lewat. Dengan polosnya sya bilang “I need your help!” terus saya bilang ga bisa nutup payungnya soalnya baru dipake.

Lalu… dia sempet bingung juga si, tapi TERNYATA…. dengan pijitannya itu dilapisi dengan plastik hitam. Ooooohhh so fancy… sampe ga ngeliat pijitannya. Ini antara gue yang udik sama payung yang terlalu fancy. Abis itu payung ketutup, gue naek ke atas, terus si kolega gue ketawa-tawa. Iya si gue ketawa juga.

Lalu sebelom pulang gue coba buka payungnya trus gue tutup sendiri. Takut nanti pas mau naik bus gue ga bisa tutup payungnya.

“sunset is calling… sunset is calling again..”

Saya sempet beli CD nya pure saturday waktu saya ke Indonesia awal Januari lalu. Tapi baru semalam saya dengerin. Setiap dengerin Spoken, jadi inget 2004. We’re taking the long path, Our steps are moving together…”

Pas saya di Indo, kampus baru buka tangal 5 which is 3 hari sebelum gue berangkat ke NL. Saya nyempetin ke kampus, soalnya mau ngambil ijazah dan anak-anak juga pada maen futsal sekalian juga gue ketemuan sama anak-anak.

Futsal selalu ada tiap tahun di Infor Trisakti, udah jadi acara wajib setiap tahun.  2004 juga sering banget menang tiap tahun. Saya ke kampus dari tanggal 6,7, 8. Tanggal 8 nya abis dari kampus langsung cabut ke airport. Ternyata tahun ini kita menang lagi. Finalnya itu pas tanggal 8. Jadi gue berangkat pas final selesai, pengen liat anak-anak menang.

Terus pas waktu pertandingannya udah abis, ana-anak langsung berhamburan ke lapangan. Loncat-loncatan girang banget. Terus ternyata pialanya dikasi ke gue. Untung tas kipling gue ga penuh, jadi gue bisa masupin di situ. Terus gue nge-seal tas gue di bandara. Pas udah di seal tasnya jadi ciut… buset dah… ni piala selamet gak.

Tapi akhirnya selamet juga hehehe… dan baru gue upload semalem fotonya…