Kadang-kadang, ada satu hal yang gak bisa kita lakuin sama siapapun, termasuk teman dekat kita sekalipun (seperti bok#r? tapi bukan ini maksud saya). My side project was visiting Multatuli Museum
Akhirnya, kesampean juga tracing kepingan sejarah Indonesia Raya tercinta. At least sebagai lulusan Jurusan Teknik Informatika, yang saya trace bukan cuma code-code bahasa pemrograman. Weekend kali ini, saya memenuhi janji saya sama seorang belanda seumuran ayah saya. Kita pergi ke Museum Multatuli di Amsterdam.
Museum Multatuli sebetulnya adalah tempat tinggal Multatuli. Semua buku-buku terbitannya, disimpan di situ. Bahkan sampai sofa tempat beliau meninggal pun masih ada di rumah kecil itu. Yang menarik lagi, Multatuli adalah Ducth yang meninggalnya dikremasi. Tempat abunya masih ada di rumahnya, tapi abunya udah nggak di situ. Melihat sofa merah tempat beliau meninggal, tempat abu, meja tua, lukisan-lukisan keluarganya, nggak membuat saya merinding ketakutan (seperti teman saya yang maen peter answer terus deg2an, keringet dingin, dan guling-gulingan karena jawabannya sangat persis dengan sebenarnya… hahahahaha!!!).
Saya nggak bakal banyak cerita tentang Multatuli seperti yang diceritakan orang di museum itu (yang ternyata programmer cobol). Tapi beberapa hal yang memang saya garis bawahi dari apa yang saya dengar dan saya lihat di rumah itu.
Well, beberapa kali kita menyimpulkan Multatuli bukan anti penjajahan. Karena dia punya keinginan untuk menguasai Java juga, tapi dengan cara yang lebih proper, bukan dengan caranya pemerintah Belanda waktu itu. He’s a dreamer, dan dia bukan seperti Dutch kebanyakan ada saat itu. Mereka bilang Dutch pada saat itu sangat narrow minded. Beberapa kali, mereka bilang, sebelum perang dunia ke II, orang-orang Belanda itu sangat miskin, bahkan mereka hidup tanpa perapian saking miskinnya. Tapi setelah perang dunia kedua, semua berubah… karena apa? Ya… taulah karena apa.
Yang paling menarik adalah yang satu ini. Seperti kita tau, Multatuli terkenal dengan bukunya Max Havelaar. Tapi dia berhenti menulis, karena dia menganggap sebagai penulis ia menilai dirinya tidak berhasil dan semua yang dilakukannya sia-sia. Lewat bukunya dia ingin merubah dunia, atau dengan kata lain, menguasai Jawa dengan caranya sendiri, seperti yang sudah disebt tadi. Bukan berarti dia sama saja dengan penjajah yang kejam, karena dia sangat menghargai human rights. Intinya, menguasai jawa dengan caranya sendiri.
Tapi dari sini, saya kagum sama Multatuli. Multatuli berhenti menulis karena ia merasa usahanya untuk mengubah dunia dengan bukunya gagal. Saya lihat, Multatuli sebagai pribadi yang konsisten dengan tujuannya. Intinya dia tau banget apa yang dia lakuin waktu itu dan apa yang mau dia dapat dari situ.
Lalu satu pertanyaan yang saya selalu simpan sejak dulu, karena nggak pernah punya timing yang pas untuk bertanya. Saya wondering bagaimana perasaan mereka (Dutch people) kalo saya membicarakan tentang penjajahan. Jawabannya : They feel terrible.
And for me it’s something to forgive but not to forget.
Filed under: Unspoken