Happiness

Sebetulnya saya punya alasan untuk gak bahagia weekend ini : sejumlah hal-hal yang iritating (lagi), diajak maen kejar-kejaran tapi ga suka maen kejar-kejaran, diajak ke exhibition tapi gak suka exhibition, diajak ngurusin orang tapi urusan sediri belom kelar.

Darn! saya capek aja ngurusin hal-hal begituan sampe nggak sempet nyenengin diri sendiri. Kalau bisa bilang, semua orang berhak bahagia, dengan melakukan apapun yang mereka mau, tanpa perlu bilang-siapa-siapa.

Sesimple duduk di sofanya OBA sambil baca Sitta Karina, sesimple cari kopi dan majalah pagi, sesimple duduk di kereta di dekat jendela dan tertidur pulas menuju Schiphol, sesimple memuaskan rasa penasaran tentang springDOTnyet, sesimple rasa exited punya polaroid 600, sesimple expresi amaze liat Al-Qur’an tajwid, sesimple melontarkan pertanyaan, sesimple dengerin the best nya pure saturday, dan sesimple apapun itu.

dan sesimple tertawa saat melakukan satu hal bodoh, di saat ada orang lain yang malu.

Ada yang bilang, semua jadi bahagia ketika kita menjadi apa adanya. Bukan orang yang setiap geraknya pura-pura, bukan orang yang setiap langkahnya untuk mendahului yang lain.

Terus temen gue bilang “Elo berhak bahagia, nyan!” And I’m happy!

effortlessly stunning

I don’t participate any competition, I don’t do something because all the people do it, I don’t read such a best seller book, because I’m who I am, and I am effortlessly stunning. -anonymous-

Well… mengingat perkataan seorang teman yang baru saja berjumpa, “You can be whoever you want, sesimple copy-paste algoritma searching dari codeproject ke Visual Studio elo. Jadi jangan heran hari gini masi liat wannabe…”

Oke…

reading is travelling without moving

Gue pikir ga jadi nonton Forbidden Door, soalnya temen gue batalin. Tapi ternyata… gue nonton juga. Angin Rotterdam, jadwal kereta, dan akomodasi ga jadi masalah. Akhirnya nonton Faces of Fear, Forbidden Door, 9808 dengan formasi teman-teman yang berbeda.

IFFR tahun ini, gue bisa berangkat ke rotterdam setelah tahun sebelumya gue lewatin. Ngingetin gue sama masa-masa nonton Indonesian S Express dan ternyata gue masi bisa melakukan semua yang dulu pernah gue lakuin, cuma selama ini gue lupa aja :)

Tadi juga gue ngobrol-ngobrol sama Christin tentang kebiasaan baca buku. Gila gue udah setahun ga baca buku, sejak jadi student. Gak tau kenapa gue gak baca buku. Dan efeknya kalo gak baca buku lumayan dashyat. Pertama lama-lama sempit pengetahuannya, taunya itu-itu aja. Kedua, jadi susah nulis, karena perbendaharaan kata gitu-gitu aja. Ketiga, jadi pasif, gak punya bahan omongan soalnya pengetahuannya itu-itu aja.

By the way, buku apa si yang gue baca? Ya ampun, simple banget kali… bukan buku filosofi yang ngebahas descartes, atau jaman reinassance, bukan buku .NET atau SQL Server yang isinya tutorial (kalo ini mah jadi buku acuan, bukan bacaan. Dibuka kalo lagi perlu aja hehehe), bukan buku biografi Barack Obama, BJ Habibie, bukan buku paham-paham -isme

Yang gue baca mostly novel. Dari Dhonny Dhirgantoro, Sitta Karina, Jamal, Fira Basuki, NoRiYu, Dee,  Syahmedi Dean sampe Asma Nadia. Baca buku-buku kayak gitu, bikin gue keluar masuk dunianya orang-orang. Karena setiap buku nyeritain tokoh-tokoh dengan latar belakang yang beda-beda. Ada yang cerita PSK tapi cerdas banget, cerita bankir, cerita student ITB yang dibuang ke Norwei sebelum tahun 98, ada juga yang ceritain orang yang kerja jadi intel, ada jurnalis fashion, keluarga senator, dokter jiwa, wartawan, event organizer… aaaah pokoknya gue dibawa masuk ke dunia-dunia yang belom pernah gue tau. Travelling without moving.

Akhirnya, sejak kerja gue mulai baca buku lagi… pengen nulis lagi… di mana tangan gue gak berhenti ngetik, mata gue gak capek baca ulang.

it’s okay!

Foto-foto yang begini bikin gue ngakak tiap pulang kerja. Well, I always miss the moment when I just had a-not-really-good day but it’s okay!

n587899004_1351689_5334

abud, yuzar, seno, polo, ais yang moto pasti jarwo…

tahun depan jangan main bola lagi ya kawan!

made of stone

Seperti biasanya, pulang kerja, setelah makan dan mandi, gue berada dalam posisi yang posisi nggak-tau-mau-ngapain-lagi sambil dengerin bbc radio1. Lalu tiba-tiba lagunya stone roses yang made of stone diputer. Wow… this is what i used to listen in high school!!! Kayaknya gue mau joged-joged dan ngencengin speaker ampe poL!

“we will not go down”

sepanas Jakarta, sedingin Amsterdam

Ketika foto dapat meng-capture semua gerak-gerik elo, vid-cam is even better to record every second movement you make, but there is no hi technology that can record the super exited feelings you feel, supaya elo bisa merasakannya lagi.

Gue sampe di Indo jam 8-9nan. Pake acara ketahan di Imigrasi karena lupa bawa kartu imigrasi. Bandara sepi banget karena hari itu hari natal. Gue nuggu bagasi, dan koper gue cukup mudah dikenali karena di seal pas di schiphol.

Gue lalu mengangkut sendiri tu koper ke trolley gue. Satu kali dalam beberapa kesempatan, gue harus bias melakukan semuanya sendiri termasuk ngangkat koper gue sendiri. Pas gue angkat itu koper gede banget, ternyata trolley gue ikutan jalan. Akhirnya, trolleynya ditahan sama orang. Thanx, ada yang bantuin gue juga. Total bawaan gue satu koper gede, satu tas kipling, satu tas laptop yang slim banget dan tote bag espri.

Pas gue keluar, bokap nyokap sudah menunggu, dengan muka sumringah. Pas kita jalan ke arah parkiran, gerombolan sepupu cowok gue langsung ngagetin gue. Jadi yang jemput gue bukan Cuma bonyok, tapi juga 4 sepupu gue, satu istrinya sepupu gue dan kakak gue. Secara fungsional, gue bakal cukup dijemput sama 2 orang aja, dengan satu mobil tentunya. Tapi kalo udah sama sodara, gak pake fungsional-fungsionalan…  glad to see them!

Hari pertama di Indonesia, gue menyempatkan ke nikahan temen gue. Jadi gue balik dulu ke rumah gue, disambut bakso abis itu mandi-mandi dan ganti baju, terus cabut lagi. Sebelom gue ke nikahannya temen gue (anak Amsterdam), gue ditelpon sama temen gue. Dia nelpon gue ke rumah, waktu itu gue belom punya nomor Indo, Cuma punya duit 20 ribu perak yang terdiri dari 2 lembar sepuluh ribuan merah, tidak punya KTP. Gue bilang sama temen gue, gue mau pergi dulu dan gue gak punya nomor hp dan nyuruh dia telpon lagi. Sorenya gue baru buka messenger. Gue liat-liat siapa anak-anak yang Online. Gue juga buka facebook, reply threadnya anak-anak dan sekedar ngabarin kalo gue uda sampe. Begitu gue buka YM, temen-temen gue langsung negor dan memastikan gue uda sampe Indo. Terus mereka ngajak ketemuan. Gue emang udah rencana mau ngumpulin anak-anak di rumah kayak waktu kita buka puasa bareng dan farewell gue (di mana terjadi kejadian yang…). Tapi anak-anak juga pengen jalan bareng. Terus eyang gue juga telpon, memastikan cucunya yang petakilan ini baek-baek aja. Sodara gue yang di Lampung juga ngabarin kalo mereka segera meluncur ke Jakarrta dan besoknya kita juga mau bedah balong. Senangnya masih banyak yang inget gue (hehehe)! Kalo dulu dicariin buat bikin surat menyurat di himpunan, atau dikejar-kejar LPJ, atau dikejar rapat dan ngaji yang sering bentrok, atau tugas yang menyita sebagian besar malam gue,  sekarang bener-bener dicariin… jadi terharuuu.

Bener kata temen gue, udara Jakarta kering banget, panas pula. Tapi di manapun gak jadi masalah, asal lo bias sama orang yang bias bikin lo ketawa ngakak… Jakarta yang panas bisa jadi sedingin Amsterdam.

Well, ini cuma hari pertama… heboh-heboh berikutnya nanti lagi disambung

fight my winter mood

We are not living in a piece of paper, where we can write something and everyone can read it. The earth won’t stop moving and we start to get tired. We’ll see, and THE WORLD IS FOR THE PEOPLE WHO WANT TO FIGHT!

Beberapa novel yang gue baca, yang membekas di kepala semuanya bercerita tentang mimpi dan seberapa harusnya seorang manusia punya mimpi. The Alchemist dan 5 cm adalah 2 buku yang membekas di kepala gue. Selain itu ada 3 supernova(s) yang mengenalkan gue sama hal-hal yang belom pernah ada di kepala gue sebelumnya.

Alchemist bilang “When you really want something to happen, the whole universe will conspire to help you”, sementara 5CM punya arti, kalo kita punya keinginan taruh seolah-olah 5cm di depan kepala, supaya tetap ingat terus dan berusaha menggapainya.

Satu hal yang mebahayakan adalah ketika kita mulai skeptis. Ketika rasa skeptis mulai datang, seperti memberhetikan bumi kita yang sedang berputar. Saat rasa skeptisnya hilang, kita sudah tertinggal jauh, dan cukup lelah untuk mengejar.

Fiday morning, I picked up the phone from my japanese colleague. I said “How are you?” and she said “I’m happy because it’s friday, and tomorrow I can sleep all day!” That’s definetly what I plan to do. But the weather seems so unfair, the sun is too bright, my room is too white, so I woke up at 8.

when we were amazing

When we were amazing, I could order a cup of herbs tea and J.CO Doughnut or just a noodle with red sauce

Wondering what tomorrow will bring, in a 2 seasons country,

Now I’m staring at the Schiphol’s sky, sitting in a big green Conexxion bus, crowded with people, wearing suits with hugo tie

when the winter is not too cold, I’ll cross the street with no coat

I never try to be the first one, I just wanna be the normal one

but I’m wondering why I can’t be wherever you are, and you’ll be livin’ in a picture where all my friends are captured